Thursday, November 11, 2004

Tidak masuk ranking 200 universitas terbaik di dunia?

The Times memberikan suplemen tentang Higher Eductaion yang berisi ranking 200 universitas terbaik(?) di dunia. [Ada yang punya URL lengkap ke laporan tersebut? Saya hanya punya berkas dalam format PDF-nya.] Sayangnya ternyata ITB tidak masuk dalam daftar tersebut, padahal universitas dari Malaysia dan Singapura ada di sana. What's wrong with us?

2 Comments:

Blogger Roby said...

Saya sendiri belum liat rankingnya dan juga tidak tahu metodologinya. Tapi biasanya ranking2 berdasar kategori2 yg umum di sebuah research university. Kalo Indonesia ngga masuk jadi ngga aneh karena memang di Indonesia ngga ada research university. Kalau diliat dari produksi pengetahuan (melalui publikasi dan citation) Indonesia ngga akan muncul. Tapi kalo diliat sbg teaching university e.g. kompetisi ujian masuk, faculty-students ratio, kuantitas gelar yg dihasilkan, mungkin Indonesia (e.g. ITB) bisa masuk.

Btw, terima kasih untuk menyediakan blog ini, jadi obat kangen bandung & ITB

cheers.

9:33 PM  
Blogger Firman Raybat said...

Saya kuliah di UNSW, Sydney . Saya sudah melihat top 200 ranking terbitan Times Education Supplement . My university currently is in ranking 36 whereas NUS made extraordinary achievement by positioning themselves in 18th rank . Kalau nggak salah, dua atau tiga universitas Malaysia masuk dalam Top 200 ranking . Apa yang salah sehingga universitas Indonesia nggak dikategorikan dalam Top 200 ? . Kalau menurut pendapat saya, saya bisa memberikan beberapa perbedaan antara pendidikan di Australia, Malaysia dan Indonesia .

Pertama, Anggaran pendidikan pemerintah masih tergolong minimum, sekalipun kita sadar kalau pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk peningkatan SDM . Mulain dari hanya 3.9 % dari APBN, pemerintah berjanji meningkatkan dana secara bertahap ke 20 % dari APBN . Bandingkan saja dengan Malaysia, sekitar 25% setiap tahun dialokasikan untuk pendidikan dan training . Setiap tenaga pengajar dilatih secara intensif dengan pembiayaan dari pemerintah . Banyak beasiswa tersedia di berbagai bidang . Kalau dulu pendidikan Malaysia jauh di bawah Indonesia standard, sekarang mereka telah membuktikan kalau perhatian sungguh2 pemerintah terhadap pendidikan dna penelitian akan mendatangkan hasil ! . Dari yang saya dengar, alokasi min 20 % dari anggaran belanja negara Indonesia juga masih susah untuk direalisasikan . Bagaimana mungkin research achievement bisa ditingkatkan ? . Bagaimana mungkin pendidikan merata bisa dikecapi anak2 bangsa ? . Bagaimana pula dengan students yang berpotensi ? Apakah pemerintah sanggup memberikan beasiswa kepada mereka ? . Banyak pertanyaan yang bisa dikaitkan dengan pembiayaan pendidikan .

Kedua, keterlibatan swasta dalam pendidikan masih belum optimum . Hal ini merumitkan penyediaan pendidikan yang berkualitas . Kerjasama antara perguruan tinggi negeri dan swasta juga masih belum dipandang secara serius .

Ketiga, perguruan tinggi negeri terutamanya belum mempunyai keleluasaan untuk berkembang . Otang2 kalangan atas di pendidikan masih sibuk dengan bureaucracy dalam pendidikan dan establishment berbagai macam peraturan yang malah tidak mendatangkan hasil yang memuaskan . Di Australia, universitas diberikan flexibility dalam hal pengelolaan di berbagai aspek . Sebagai hasilnya, setiap universitas di sini bersaing secara kompetitif antara satu dengan yang lain, terutama dalam bidang research, facilities and teaching .

Kedua, etos kerja, semangat juang dan kemauan belajar bangsa Indonesia sangat memprihatinkan . Sejujurnya, I don't understand how students ( in Indonesia ) perceive education . Seakan-akan, mereka ngga peduli akan pentingnya pendidikan . Saya tidak mendengar secara konkrit langkah2 yang diambil oleh pihak universitas dalam merangsang semangat belajar mahasiswa . Plagiarism merupakan hal yang sering terjadi di kalangan mahasiswa di Indonesia . Fasilitas yang terbatas turut serta mengurangi niat pelajar untuk berfikir secara kreatif, kritis dan inovatif ! Di Australia, libraries dan fasilitas yang lain ( labs / student organisations ) disediakan dengan lengkap sehingga mendukung pembentukan lingkungan belajar yang conducive . Bahkan di Malaysia, many students spend their time studying in library . If our students do not bother to touch any book, what will they contribute to our nationwide development ?

Itu saja sebagian pendapat saya tentang kelemahan sektor pendidikan di Indonesia . I enjoy having discussion and view exchange with anyone . If you're interested in doing so, email me at z3137197@student.unsw.edu.au

Thanks
Firman Raybat

6:54 PM  

Post a Comment

<< Home